Kisah Mahasiswa KKN Unipa Menjelajahi Budaya Kampung Dembek Lewat Bahasa, Laut, dan Seni Rajut

Manokwari Selatan – Senin, 30 Juni 2025 menjadi hari yang tak terlupakan bagi mahasiswa KKN Universitas Papua (Unipa) yang bertugas di Kampung Dembek. Dalam rentang waktu pukul 09.18 hingga 12.30 WIT, mereka secara langsung terlibat dalam kegiatan tradisional masyarakat setempat, yakni pemasangan serompong. Serompong adalah alat tangkap ikan tradisional yang menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya maritim di pesisir Papua.
Kehadiran para mahasiswa ini disambut hangat oleh warga. Dengan penuh semangat, mereka bergotong royong bersama warga memasang serompong di tengah laut. Meskipun sebagian besar mahasiswa tidak memiliki pengalaman melaut dan sempat merasakan rasa takut akan kedalaman air, hal itu tidak menyurutkan niat mereka. Justru, rasa penasaran yang kuat menjadi pendorong utama untuk berpartisipasi dan memahami kearifan lokal ini secara langsung.
Proses pemasangan serompong ini menjadi momen berharga bagi mahasiswa untuk belajar banyak. Tidak hanya tentang teknik menangkap ikan, tetapi juga tentang nilai-nilai kebersamaan dan kegigihan yang diwariskan secara turun-temurun. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa banyak berinteraksi dengan warga, mendengarkan cerita-cerita tentang kehidupan sehari-hari dan cara mereka melestarikan budaya.
Rasa ingin tahu yang besar membuat para mahasiswa tidak hanya berfokus pada pekerjaan fisik. Mereka juga aktif bersosialisasi dengan warga, mencoba belajar sedikit bahasa lokal, dan memahami lebih dalam adat istiadat Kampung Dembek. Pengalaman ini membuka mata mereka bahwa budaya adalah sesuatu yang hidup dan terus diwariskan melalui praktik nyata, bukan sekadar teori di bangku kuliah.
Selain kegiatan di laut, mahasiswa KKN Unipa juga menunjukkan keaktifan dalam kegiatan budaya lainnya. Pada hari Selasa, 5 Agustus 2025, pukul 13.40 hingga 16.20 WIT, mereka belajar merajut noken bersama Mama Yusuf Inden, salah satu warga Kampung Dembek. Noken adalah tas tradisional Papua yang memiliki makna sosial dan budaya yang sangat penting.
Mama Yusuf Inden dengan sabar mengajari para mahasiswa teknik dasar merajut noken, mulai dari pemilihan bahan hingga pola anyaman yang benar. Para mahasiswa mengikuti setiap langkah dengan antusias, menunjukkan ketekunan dan kemauan untuk belajar. Pengalaman ini memberi mereka pemahaman bahwa pembuatan noken bukan hanya sekadar kerajinan, melainkan juga sebuah seni yang memerlukan ketelitian dan kesabaran.
Setelah sesi belajar berakhir, semangat para mahasiswa untuk terus merajut noken tidak padam. Mereka sering kali memanfaatkan waktu luang di posko untuk melanjutkan anyaman noken. Tidak hanya sebagai pengisi waktu, aktivitas ini juga menjadi cara mereka untuk terus mengasah keterampilan yang telah diajarkan dan menciptakan karya mereka sendiri.
Produk yang mereka buat, seperti tas noken kecil untuk menyimpan ponsel, menjadi bukti nyata dari partisipasi aktif mereka. Lebih dari sekadar hasil kerajinan, noken yang mereka buat adalah simbol dari hubungan erat yang terjalin antara mahasiswa dan masyarakat Kampung Dembek. Kegiatan ini memperkuat ikatan emosional dan saling pengertian antara kedua belah pihak.

Kirim Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin